Filsafat Cinta



Berderai air mata, beratap do’a
Beralas ikhlas, munajat cinta

Cinta, siapa yang tidak pernah merasakannya? Pasti semua manusia pernah merasakannya. Akan tetapi, mungkin implementasinya berbeda-beda, tergantung cinta bagaimana yang dimaksud. Dan acapkali cinta banyak diperdebatkan tentang arti cinta itu sendiri. Cinta kadang digambarkan dengan sebuah lambang, yaitu hati. Tapi mengapa kok gambar hati? Kok bukan gambar pentol korek yang menyala apinya? Atau mungkin cinta dilambangkan dengan palu arit, atau pacul, atau kunci saja?
Tulisan ini mungkin sangat tidak pas disebut sebagai artikel, apalagi tulisan ilmiah. Tulisan ini adalah sebuah opini, atau mungkin lebih pasnya disebut sebagai ajang berbagi pengalaman.

Ontologi cinta
Ah…sulit rasanya untuk mendeskripsikan cinta, apalagi untuk mendeskripsikannya dalam terminologi. Sulitnya cinta untuk dideskripsikan karena cinta berhubungan dengan rasa, yang dalam istilah tasawufnya berhubungan dengan dzauq. Bahkan para pakar tasawuf sendiri dalam mendeskripsikan terma tasawuf banyak bersilang pendapat, karena disamping tasawuf berhubungan dengan rasa, perbedaan pendekatan yang mereka gunakan dalam memahami tasawuf menghasilkan interpretasi yang berbeda pula. Tapi ngapain ngomong tasawuf, lha wong judul kita tentang filsafat cinta. Maka dari itu, agar tidak menimbulkan pertanyaan yang mbulet dalam hati, ada baiknya kita coba untuk mendeskripsikannya toh meskipun sangat amat sulit sekali untuk dideskripsikan.
Cinta, love atau dalam bahasa Arab kadang diartikan dengan al-hubb, al-wudd, dan lain sebagainya tergantung dari sumber derivasinya, yang kesemuanya berhubungan dengan perbuatan hati (rasa). Karena memang cinta adalah sebuah rasa. Rasa yang berhubungan antara sesuatu dengan sesuatu yang lain. Rasa yang lebih dari sekedar suka. Rasa yang bisa mengakibatkan orang yang mengalaminya gelisah, tidak tenang, kadang-kadang murung, banyak melamun. Rasa yang bisa menimbulkan perasaan rindu, kangen, marah, benci dan lain sebagainya. Rasa yang membuat orang tidak enak makan, sulit tidur, bahkan kadang membuat orang menjadi sakit. Yang menyebabkan orang meneteskan air mata.
أَمِنْ تَذَكُّرِ جِيْرَانٍ بِذِيْ سَلَمِ * مَزَجْتَ دَمْعًا جَرَى مِنْ مُقْلَةٍ بِدَمِ
أَمْ هَبَّتِ الرِّيْحُ مِنْ تِلْقَاءِ كَاظِمَةٍ * وَأَوْ مَضَى الْبَرْقُ فِي الظَّلْمَاءِ مِنْ إِضَمِ
فَمَا لِعَيْنَيْكَ إِنْ قُلْتَ اكْفُفَا هَمَتَا * وَمَا لِقَلْبِكَ إِنْ قُلْتَ اسْتَفِقْ يَهِمِ
Apakah karena teringat tetangga di Dzi Salam, engkau teteskan air mata bercampur darah. 
Ataukah karena tiupan angin dari bukit Kadzimah, atau karena sambaran petir dalam gelapnya malam dari bukit Idomi.
Kepada kedua matamu engkau berkata: ‘Diamlah, jangan menangis!’. Dan kepada hatimu engkau berkata: ‘Tenanglah, jangan gelisah!’”. (Burdah)

Rasa yang ditimbulkan cinta ini bukan muncul dari logika, bukan muncul dari nalar, bukan pula muncul dari panca indera (toh meskipun cinta bermula dari pandangan). Akan tetapi, rasa cinta muncul dari dalam hati, dari nurani yang ada dalam hati. Dengan demikian, kita menggambarkan cinta dengan lambang hati. Bukan dengan gambar pentol korek yang menyala apinya, atau gambar palu arit dan yang lain sebagainya. 
Yah… mungkin inilah sekilas pemahaman tentang arti cinta yang bagi saya sendiri sangat amat sulit sekali untuk digambarkan, apalagi dideskripsikan. Yang pasti masing-masing dari kita pasti memiliki pemahaman tersendiri dari kata cinta, tergantung dari mana kita memandang dan mendekati cinta, dan dari mana kita mulai pengalaman cinta.
Cinta bukan hanya sekedar kata
Cinta bukan hanya pertautan hati
Cinta bukan hasrat luapan jiwa
Cinta tak hanya diam (Padi, “Tak Hanya Diam”)



Epistemologi Cinta

Rasa cinta pasti ada pada makhluk yang bernyawa
Sejak lama sampai kini tetap suci dan abadi
Takkan hilang selamanya sampai datang akhir masa



Mungkin inilah syair melayu yang pas untuk menggambarkan bagaimana cinta diperoleh. Cinta merupakan anugerah Yang Maha Cinta, Yang Maha Kasih, Yang Mencintai dan tak berharap untuk dicintai, Yang Mengasihi dan tak berharap untuk dikasihi. Sebuah anugerah yang agung yang setiap makhluk tidak dapat mengingkarinya. Sebuah fitrah suci yang diberikan tanpa memandang jenis kelamin, ras, suku bangsa, warna kulit, miskin-kaya, hina-mulia, tua-muda. Sebuah fitrah yang diberikan hanya untuk makhluk yang bernyawa, yang memiliki jiwa.
Cinta jenis ini bisa berupa cinta orang tua kepada anak, cinta kakak kepada adik, cinta guru kepada murid, cinta murid kepada guru, cinta sahabat kepada sahabat, atau cinta kekasih kepada yang dikasihi. Cinta Tuhan kepada hamba-Nya, dan cinta hamba kepada Tuhannya.
Cinta jenis ini muncul meskipun kadang yang dicintai tidak memahami bahwa dia dicintai oleh yang mencintainya. Anak sebandel apapun masih tetap dicintai oleh orang tuanya. Murid meskipun suka membolos masih tetap akan dicintai oleh sang guru. Dan seburuk apapun sang kekasih baik budi maupun bodinya, masih akan tetap dicintai oleh yang mengasihinya. Inilah yang oleh beberapa pecinta disebut dengan cinta sejati, cinta tulus, cinta abadi, dan lain sebagainya.
Namun, disamping cinta merupakan anugerah Yang Maha Kuasa, cinta juga bisa diperoleh melalui proses yang dijalani. Kata suka, senang, sayang, kasih kadang diidiomkan dengan kata cinta. Dan masing-masing kata ini juga memiliki interpretasi yang berbeda-beda tergantung siapa yang menginterpretasikannya. Perasaan suka, senang, sayang dan kasih, bisa muncul meskipun seseorang berangkat dari rasa yang sebaliknya, benci, marah, dan lain sebagainya.
Perasaan suka, senang, sayang dan kasih ini dapat muncul tatkala seseorang sudah terbiasa bergaul dengan sesuatu yang semula dia benci, sesuatu yang baginya tidak baik. Sebuah contoh, ada seorang yang bukan perokok dan sangat tidak senang untuk minum kopi. Akan tetapi, dalam lingkungan pergaulan kesehariannya adalah mereka yang amat gemar untuk merokok dan minum kopi. Pergaulan ini sangat tidak bisa dia hindari meskipun pada dasarnya dia tidak menyukainya. Namun, lambat laun karena sudah terbiasa dengan bau asap rokok, dan harum aroma kopi panas, maka dia pun sedikit demi sedikit akan tertarik untuk merasakannya. 
Dari sini pula akan muncul rasa suka, senang, atau bahkan sayang jika tidak bisa merokok dan minum kopi. Dalam istilah Jawa ini disebut sebagai tresno jalaran songko kulino (cinta muncul karena terbiasa). Mungkin ini deskripsi yang cocok untuk menggambarkan bagaimana proses cinta dapat diperoleh, yaitu melalui kebiasaan.

Aksiologi Cinta
Namun, cinta bukan kopi, cinta bukan pula rokok, atau cinta bukan kesenangan-kesenangan yang memberikan kenikmatan sesaat. Aksiologi cinta, manfaat cinta lebih dari sekedar untuk menyalurkan luapan nafsu syahwati
Cinta dapat memberikan semangat bagi hati yang pesimis, cinta dapat memberikan kebahagiaan bagi hati yang sedih, cinta juga dapat memberikan kehidupan bagi hati yang mati.
Meresap kecup hangat sebentuk cinta
Tlah terukir di dalam jiwaku
Seperti tetes embun menyegarkan hari
Menciptakan keajaiban di hati (Padi, “Tak Hanya Diam”)


Namun, cinta tidak hanya memberikan kesenangan dan kebahagiaan bagi si pecinta. Tidak jarang cinta juga memberikan rasa sakit yang amat sangat. Cinta kadang memberikan kegelisahan, tetes air mata, kebencian bahkan kemarahan.
أَيَحْسَبُ الصَّبُّ أَنَّ الحُبَّ مُنْكَتِمٌ * مَا بَيْنَ مُنْسَجِمٍ مِنْهُ وَمُضْطَرِمِ
نَعَمْ سَرَى طَيْفُ مَنْ أَهْوَى فَأَرَّقَنِي * وَالحُبُّ يَعْتَرِضُ اللَّذَّاتَ بِالأَلَمِ
 Apakah orang yang dilanda cinta mengira bahwa cinta dapat disembunyikan antara cucuran air mata dan kemarahan. 
Suatu malam terlintas bayang seseorang yang kucintai, menyebabkan aku sulit tidur. 
Ah…memang benar, cinta menukar kenikmatan dengan rasa yang menyakitkan”. (Burdah)

Cinta juga bisa menulikan telinga, membisukan mulut, dan membutakan mata. 
Cinta itu bagai anak panah
Yang siap melesat dan menancap ke mana arah yang dituju
Tak ada satu tanganpun yang mampu mematahkan anak panah yang sudah menancap itu
Kuat dan tak akan berkarat
Cinta tidak mampu melihat perbedaan
Cinta tidak sepaham dengan logika
Cinta itu tidak punya mata (No name)

Cinta juga kadang memberikan kehinaan bagi si pecinta. Dan karena cinta membutakan, dia pun rela menerima berbagai bentuk kehinaan.
كُلُّ مَنْ يَهْوَى وَإِنْ عَالَتْ بِهِ * رُتْبَةُ الْمُلْكِ لِمَنْ يَهْوَاهُ تَبَعُ
Orang yang dilanda cinta, walaupun tinggi derajatnya seperti raja, dia akan patuh (tunduk) pada orang yang dicintainya. (No name)

Ah, mungkin inilah seni dari cinta, cinta kadang memberikan kebahagiaan dan kadang pula memberikan kesengsaraan. Apapun yang terjadi, demi yang dicintai seorang pecinta rela menerima segala akibat dari cinta yang dirasakannya.
Nah, sekarang cinta yang bagaimana yang dikatakan baik dalam pandangan agama Islam, karena kita kan orang Islam.

Cinta Dalam Islam
Islam adalah agama rahmat lil’alamin pembawa kasih bagi semua umat manusia, alam semesta.
Dalam Islam sangat ditekankan akan pentingnya cinta kasih kepada siapapun. Baik hal minAllah (hubungan dengan Allah), maupun habl min annaas (hubungan dengan manusia, termasuk alam semesta).

Cinta, bagaimanapun bentuknya harus didasarkan pada kecintaan kepada Allah. Cinta kepada manusia, kepada benda, kepada lingkungan sekitar, semua ditujukan kepada sang Khalik. Cinta yang demikian yang sangat berat untuk dilakukan.
Muara kehidupan ini adalah untuk kembali kepada-Nya, termasuk cinta. Cinta sejati adalah cinta yang tak berharap sesuatu apapun, kecuali ridho-Nya. Kehidupan kita, termasuk rasa cinta kita adalah suatu bentuk pengejawantahan dari rasa pengabdian (ibadah, ta’abbud) kita kepada sang Khalik. Karana kita hidup hanya untuk mengabdi kepada-Nya.
Jadi, apapun yang terjadi, bagaimanapun bentuknya, kepada manusia, kepada benda, kepada alam semesta, seluruh cinta kita harus ditujukan untuk berta’abbud kepada Allah. Karena jika cinta sudah dilandasi ta’abbud, maka seks, coklat, hadiah atau bentuk penghargaan apapun, hanya menjadi sebuah kembang hiasan dari perasaan cinta itu sendiri, bukan menjadi tujuan dari cinta. Kenikmatan sesaat yang dijanjikan cinta akan menjadi hina, tiada harganya. Cinta menjadi rela untuk menerima hasil akhir dari takdir cinta. Happy ending, sad ending, atau apapun bentuk akhir dari sebuah kisah cinta, akan menjadi indah tatkala cinta dilandasi rasa cinta dan ta’abbud kepada Allah, Sang Maha Cinta. 
Ketika engkau mengenal cinta, engkau akan mengenal kematian… (No name)

Mungkin inilah sekilas tulisan kecil tentang arti, makna, proses cinta, dan manfaat dari cinta. Akan tetapi, sekali lagi, tidak menutup kemungkinan tulisan ini akan berseberangan dengan pikiran pembaca. Karena masing-masing dari kita memandang dan mendekati cinta dengan point of view dan approach yang berbeda-beda.